Semua kalangan: Proses Pembuatan Gerabah kasongan

Ads 468x60px

Pages

Kamis, 23 Desember 2010

Proses Pembuatan Gerabah kasongan

Proses Pembuatan Gerabah
Oleh: Drs. I Wayan Mudra, M.Sn.
Proses pembuatan gerabah pada dasarnya memiliki tahapan yang sama untuk setiap kriyawan. Demikian
juga halnya dengan proses pembuatan gerabah yang dipasarkan di Bali, yang membedakan adalah
perbedaan alat yang dipakai dalam proses pengolahan bahan dan proses pembentukan /perwujudan.
Perbedaan alat merupakan salah satu faktor penyebab perbedaan kualitas akhir yang dicapai oleh masing-
masing kriyawan. Misalnya dalam proses pembentukan badan gerabah dengan teknik putar, ada kriyawan
yang menggunakan alat tradisional dengan tenaga gerak kaki atau tangan, sementara kriyawan yang
sudah lebih maju ada menggunakan alat putar dengan tenaga listrik (electrick wheel). Kelebihan alat yang
kedua dibandingkan yang pertama adalah lebih stabil dalam pengoperasiannya serta lebih efesien dalam
waktu dan tenaga.

Tahapan proses pembuatan gerabah :
a. Tahap persiapan
Dalam tahapan ini yang dilakukan kriyawan adalah :
1). Mempersiapkan bahan baku tanah liat (clay) dan menjemur
2). Mempersiapkan bahan campurannya
3). Mempersiapkan alat pengolahan bahan.

b. Tahap pengolahan bahan.
Pada tahapan ini bahan diolah sesuai dengan alat pengolahan bahan yang dimiliki kriyawan. Alat
pengolahan bahan yang dimiliki masing-masing kriyawan gerabah dewasa ini banyak yang sudah
mengalami kemajuan jika dilihat dari perkembangan teknologi yang menyertainya. Walaupun masih
banyak kriyawan gerabah yang masih bertahan dengan peralatan tradisi dengan berbagai pertimbangan
dianggap masih efektif. Pengolahan bahan ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengolahan bahan
secara kering dan basah. Pada umumnya pengolahan bahan gerabah yang diterapkan kriyawan gerabah
tradisional di Indonesia adalah pengolahan bahan secara kering. Teknik ini dianggap lebih efektif
dibandingkan dengan pengolahan bahan secara basah, karena waktu, tenaga dan biaya yang diperlukan
lebih lebih sedikit. Sedangkan pengolahan bahan dengan teknik basah biasanya dilakukan oleh kriyawan
yang telah memiliki peralatan yang lebih maju. Karena pengolahan secara basah ini akan lebih banyak
memerlukan peralatan dibandingkan dengan pengolahan secara kering. Misalnya : bak perendam tanah,
alat pengaduk (mixer), alat penyerap air dan lain-lain.
Pengolahan bahan secara kering dilakukan melalui tahapan sebagai berikut :
1). Penumbukan bahan sampai halus.
2). Pengayakan hasil tumbukan
3). Pencampuran bahan baku utama (tanah) dengan bahan tambahan (pasir halus atau serbuk batu
padas, dll) dengan komposisi tertentu sesuai kebiasaan yang dilakukan kriyawan gerabah masing-
masing. Kemudian tanah yang telah tercampur ditambahkan air secukupnya dan diulek sampai rata
dan homogen. Selanjutnya bahan gerabah sudah siap dipergunakan untuk perwujudan badan
gerabah. Pencampuran ini bertujuan untuk memperkuat body gerabah pada saat pembentukan dan
pembakaran.

c. Tahap pembentukan badan gerabah.
Beberapa teknik pembentukan yang dapat diterapkan, antara lain : teknik putar (wheel/throwing),
teknik cetak (casting), teknik lempengan (slab), teknik pijit (pinching), teknik pilin (coil), dan gabungan dari
beberapa teknik diatas (putar+slab, putar+pijit, dan lain-lain). Pembentukan gerabah ini juga dapat dilihat
dari dua tahapan yaitu tahap pembentukan awal (badan gerabah) dan tahap pemberian dekorasi/ornamen.
Umumnya kriyawan gerabah dominan menerapkan teknik putar walaupun dengan peralatan yang
sederhana. Teknik pijit adalah teknik dasar membuat gerabah sebelum dikenal teknik pembentukan yang
lain. Teknik ini masih digemari oleh pembuat keramik Jepang untuk membuat mangkok yang
mementingkan sentuhan tangan yang khas.

d. Tahap pengeringan.
Proses pengeringan dapat dilakukan dengan atau tanpa panas matahari. Umumnya pengeringan
gerabah dengan panas matahari dapat dilakukan sehari setelah proses pembentukan selesai.

e. Tahap pembakaran.
Proses pembakaran (the firing process) gerabah umumnya dilakukan sekali, berbeda dengan
badan keramik yang tergolong stoneneware atau porselin yang biasanya dibakar dua kali yaitu pertama
pembakaran badan mentah (bisque fire) dan pembakaran glazur (glaze fire). Kriyawan tradisional pada
mulanya membakar gerabahnya di ruangan terbuka seperti di halaman rumah, di ladang, atau di lahan
kosong lainnya. Menurut Daniel Rhodes model pembakaran seperti ini telah dikenal sejak 8000 B.C. dan
disebut sebagai tungku pemula (early kiln). Penyempurnaan bentuk tungku dan metode pembakarannya
telah dilakukan pada jaman prasejarah (Rhodes, Daniel, 1968:1). Sejalan dengan perkembangan
teknologi dewasa ini, penyempurnaan tungku pembakaran keramik juga semakin meningkat dengan
efesiensi yang semakin baik. Penyempurnaan tungku ladang selanjutnya adalah : tungku botol, tungku
bak, tungku periodik (api naik dan api naik berbalik).

f. Tahap Finishing
Finishing yang dimaksud disini adalah proses akhir dari gerabah setelah proses pembakaran. Proses ini
dapat dilakukan dengan berbagai macam cara misalnya memulas dengan cat warna, melukis, menempel
atau menganyam dengan bahan lain, dan lain-lain.

1 komentar:

IDE-IDE UNIK mengatakan...

terimakasih untuk penulis untuk informasi ilmu nya,ini sangat berguna buat saya, sukses terus buat redaksi semua kalangan.

Poskan Komentar